KENAIKAN HARGA BBM
SEMULA berawal dari kebijakan SBY-JK yang dinilai tidak Pro Rakyat. Yaitu menaikkan harga BBM sebesar 28.7% yang berakibat bertambahnya beban hidup, bertambahnya jumlah warga miskin. Berangkat dari keprihatinan dan empati kepada sesama tersebut, buruh, tani, mahasiswa dan rakyat miskin, bergerak bersama-sama menolak rencana kenaikan harga BBM tersebut. Karena kelompok masyarakat inilah yang memang menderita dan terkena dampak langsung kebijakan pro neoliberal.
Pergerakan (penolakan) ini bukan sekedar basa-basi atau rasa marah sesaat kepada pemerintah saja. Bahkan solusi pun sempat ditawarkan, yaitu cobalah menasionalisasi perusahaan-perusahaan tambang asing, berani-menolak hutang luar negeri, menyita harta koruptor-koruptor yang dianggap bisa menjawab masalah keterpurukan ekonomi dan politik Indonesia saat ini. Bahkan celoteh Kwik Kian Gie, kebijakan kenaikan BBM omong kosong. Menurutnya pemerintah tak harus memilih (ada alternatif) menaikkan harga BBM, lanjutnya lagi, jujur-kalau pemerintah memang memihak rakyat-sebagai pengahasil minyak bumi, Indonesia bisa menghindari harga krisis minyak dunia yang disebabkan oleh krisis ekonomi global, perang, dan krisis politik dalam negeri Amerika.
Bagi Maftuh Fauzi (almarhum) dan seratusan mahasiswa Unas (Universitas Nasional Jakarta) yang menolak rencana kenaikan BBM tersebut adalah sebuah perjuangan senyatanya. Bukan teori atau sekedar retorika belaka tapi aksi yang ditunjukkan melalui solidarita melalui Aksi Massa. Mereka orang-orang yang membuat pilihan secara sadar, berada diposisi bersama rakyat miskin, menolak kebijakan yang menyengsarakan dan menyesatkan itu.
Komentar